Search

JANGAN PUNGKIRI, KAMU RINDU DILAN


"Jangan rindu. Ini berat, Kamu tak akan kuat. Biar Aku saja." Kalimat yang keluar dari bibir Dilan itu kini meluncur dari banyak bibir generasi millenials yang sama sekali tidak pernah mengalami masa-masa Dilan di tahun 1990. Bahkan, kalimat itu juga pernah meluncur dari mulutmu kan? Eh, kok Aku jadi pakai Kamu Aku sih. Ya Tuhan, ada Dilan dalam diriku!

Biarlah.

Biarkan Aku menikmatinya sebelum rasa ini hilang ditelan pusaran hari.

Koran sore ini menyebut film Dilan mampu menarik 3 juta penonton dalam 10 hari pemutaran filmnya. Keajaiban? Kebetulan? Atau keniscayaan?

Keniscayaan.

Ijinkan malam ini Aku jelaskan padamu. Anggap tulisanku ini adalah hadiah untukmu.

"Ini hadiah untukmu. Cuma TTS. Tapi sudah kuisi semua. Aku sayang Kamu. Aku tidak mau Kamu pusing karena harus mengisinya." - Dilan

Dilan adalah keniscayaan karena kamu adalah Dilan. Atau Milea, pacarnya Dilan. Tergantung jenis kelamin Kamu tentu saja.

Semua laki-laki suka menggombal. Semua perempuan suka digombali.

Nggak percaya? Tanya istriku. Tanya bagaimana Aku suka menggombali dia. Di pagi hari. Di malam hari. Di setiap kelokan jalan. Di setiap langkah kami menyusuri lembar demi lembar kisah rumah tangga kami.

Dan tanya bagaimana dia akan tersenyum. Tertawa. Memelukku. Tanya bagaimana gombalan itu menutup luka. Membasuh sedih. Membangun istana kami berdua.

"Angin ada untuk meniup rambutmu. Aku ada untuk mencintaimu." - Dilan

Ih jijik. Malu ah. Norak! Basi! Dasar tukang gombal.

Dibalik kata-kata yang kamu ucapkan itu, coba lihat. Ada senyum kecil yang terlukis di ujung bibirmu. Kamu mencoba menyembunyikannya. Tapi Kamu tidak akan pernah bisa menyangkalnya.

Jauh dalam lubuk hatimu dan juga Aku, kita ingin keluar dari diri kita saat ini. Kita ingin lebih spesial, lebih agung, lebih indah. Kita ingin bebas menginginkan. Kita ingin merasa diinginkan. Kita ingin menjadi rapuh tanpa merasa takut. Kita ingin memberi tanpa syarat.

"Kamu itu lebih berwarna dari pelangi. Lebih segar dari pagi." - Dilan

Tapi nyatanya kita terlalu takut untuk mengekspresikan itu semua. Kita takut tertolak. Takut dianggap konyol. Lagipula, "Kontrol dirimu. Jangan tunjukkan kerapuhanmu. Jangan rendahkan dirimu."

Maka rasa itu kita pendam.

Hingga kita lupa bahwa ia pernah ada.

Kemudian Dilan datang.

Dia masuk ke dalam lubuk hati kita yang paling dalam. Membaca isinya. Kemudian memproyeksikannya secara gamblang dalam kisah layar lebar yang indah.

Menyaksikannya, tiba-tiba hati ini berasa penuh. Rasa yang selama ini terbelenggu, saat itu terbebas lepas. Selama 110 menit, kita mengijinkan diri ini untuk rapuh. Kita biarkan jiwa ini mengembara. Memuaskan dahaga emosi yang begitu lama kita simpan.

"Cinta itu dirasakan, bukan dipikirkan. Dia lebih butuh balasan, bukan alasan." - Dilan

Film Dilan bukan untuk dianalisa logikanya, dibedah jalan ceritanya, atau dikritisi akting pemainnya. Kisah Dilan itu untuk dirasakan. Maka istirahatkan pikiranmu sejenak saja. Ijinkan hatimu menikmatinya.

Balasan kita atas rasa yang Dilan hadirkan dalam hati ini? Kita ceritakan kisah Dilan pada teman-teman kita. Kita tuliskan kutipan rayuan Dilan pada Milea di jejaring media sosial kita. Tanpa sadar, kita jadi Dilan Ambassador yang membuat orang semakin penasaran untuk menonton filmnya.

"Terkadang rindu hadir diluar nalar. Ingin segera berlari dan terbang menghampiri!" - Dilan

Inilah pelajaran bisnis yang sangat berharga. Selama ini kita sibuk meyakinkan pelanggan bahwa kita punya produk yang terbaik, fitur terlengkap, dan harga termurah. Tapi kita lupa menyentuh hatinya. Menghadirkan rasanya. Mengungkap keinginan terpendam yang ia tak berani ucapkan.

Apa logikanya orang mau membeli handphone seharga motor? Tas seharga rumah mewah?

Jawabannya adalah rindu.

Kerinduan akan hasrat yang tak terungkap. Akan pengakuan. Akan penerimaan. Akan cinta yang tak berbatas.

Ketika rindu itu datang, pikiran berhenti bekerja.

“PR ku adalah merindukanmu. Lebih kuat dari matematika. Lebih luas dari fisika. Lebih kerasa dari biologi” - Dilan

Maka tanyakan pada dirimu sendiri, apa kerinduan pelanggan yang bisa terobati dengan produk atau jasa yang Kamu jual?

Kalau Kamu belum bisa jawab itu, maka bisnismu itu cuma matematika.

Dalam matematika 1 tambah 1 selalu 2. Dia tidak akan pernah jadi 20, 200 apalagi 2 milliar.

"Jika saatnya sedih menjadi tawa, perih akan menjadi cerita, kenangan akan menjadi guru, rindu akan menjadi temu, Kau dan Aku akan menjadi Kita" - Dilan

Saatnya hadirkan Dilan dalam produkmu.

Indrawan Nugroho

Business Innovation Consultant

Corporate Innovation Asia

www.cias.co


81 views0 comments

Recent Posts

See All